Abstrak
Bhisma Murti, Santoso, Rifa’i Hartanto, Sumardiyono, Firdaufan, Hendratno, Endang Sutisna., 2010. EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DENGAN STRATEGI DOTS DI EKS KARESIDENAN SURAKARTA TAHUN 2010. FK UNS-BBKPM.
Latar Belakang. Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dipandang berhasil tetapi tidak cukup cepat untuk menurunkan prevalensi dan mortalitas TB menjadi separoh pada tahun 2015 sesuai target Millenium Development Goals (MDGs). Diperlukan kontinuitas dan perluasan implementasi strategi DOTS. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pencapaian program penganggulangan TB dengan strategi DOTS, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung program, yang berguna untuk perbaikan kinerja dan perencanaan program.
Subjek dan Metode. Evaluasi ini merupakan penelitian deskriptif-analitik post-hoc dengan desain studi potong lintang (cross-sectional). Data dikumpulkan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi dilakukan di kabupaten Sukoharjo, kabupaten Boyolali, dan kota Surakarta, pada Oktober 2009 s/d Februari 2010. Populasi sasaran evaluasi meliputi petugas pelaksana, pembuat kebijakan, perencana program TB, pasien TB dan keluarganya, masyarakat, dan pemangku kepentingan penanggulangan TB, serta data pencatatan dan pelaporan program TB.
Hasil-hasil. Program penanggulangan TB dengan strategi DOTS telah berjalan di kabupaten Boyolali, Sukoharjo, dan kota Surakarta, tetapi belum mencapai target yang diharapkan. Penemuan kasus dan case detection rate di bawah standar 70%, pada level kota/ kabupaten maupun level puskesmas. Angka konversi dan angka kesembuhan masih di bawah target 85% pada sejumlah puskesmas, meskipun rata-rata target telah tercapai di level kabupaten/ kota. Salah satu penyebab utama adalah kepatuhan para dokter, spesialis, dan RS swasta masih rendah dalam menerapkan prosedur standar diagnosis, pengobatan, maupun pencatatan dan pelaporan pasien TB. Angka putus berobat dan ketidakefektifan pengawasan menelan obat mempengaruhi angka kesembuhan. Dukungan pemerintah daerah dan DPRD belum memadai dalam pembiayaan program penanggulangan TB.
Kesimpulan. Program penanggulangan TB belum mencapai hasil kuantitatif dan kualitatif yang ditargetkan. Disarankan penguatan sistem dan dan partisipasi semua tenaga kesehatan dengan pembentukan jaringan eksternal, pembuatan nota kesepakatan, kewajiban untuk mendiagnosis dan mengobati pasien TB dengan prosedur standar yang dikaitkan dengan izin praktik dan akreditasi RS. Diperlukan penyesuaian estimasi prevalensi kasus TB menurut faktor risiko TB di tingkat populasi (misalnya, pendapatan penduduk, kepadatan penduduk) agar tidak terjadi overestimasi atau underestimasi ketika diterapkan pada level provinsi, kabupaten/ kota, dan kecamatan. Disarankan pemberdayaan masyarakat untuk penemuan kasus.
Kata kunci: evaluasi, penanggulangan tuberkulosis, strategi DOTS.