Kesehatan Kerja UNS

A place to communicate all students, lectures, alumni, and stakeholder of D. III Hiperkes dan Keselamatan Kerja and D.IV Kesehatan Kerja UNS

Archive for December 2010

leave a comment »

Abstrak

Bhisma Murti, Santoso, Rifa’i Hartanto, Sumardiyono, Firdaufan, Hendratno, Endang Sutisna., 2010. EVALUASI PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DENGAN STRATEGI DOTS DI EKS KARESIDENAN SURAKARTA TAHUN 2010. FK UNS-BBKPM.

Latar Belakang. Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dipandang berhasil tetapi tidak cukup cepat untuk menurunkan prevalensi dan mortalitas TB menjadi separoh pada tahun 2015 sesuai target Millenium Development Goals (MDGs). Diperlukan kontinuitas dan perluasan implementasi strategi DOTS. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pencapaian program penganggulangan TB dengan strategi DOTS, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung program, yang berguna untuk perbaikan kinerja dan perencanaan program.

Subjek dan Metode. Evaluasi ini merupakan penelitian deskriptif-analitik post-hoc dengan desain studi potong lintang (cross-sectional). Data dikumpulkan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi dilakukan di kabupaten Sukoharjo, kabupaten Boyolali, dan kota Surakarta, pada Oktober 2009 s/d Februari 2010. Populasi sasaran evaluasi meliputi petugas pelaksana, pembuat kebijakan, perencana program TB, pasien TB dan keluarganya,  masyarakat, dan pemangku kepentingan penanggulangan TB, serta data pencatatan dan pelaporan program TB.

Hasil-hasil. Program penanggulangan TB dengan strategi DOTS telah berjalan di kabupaten Boyolali, Sukoharjo, dan kota Surakarta, tetapi belum mencapai target yang diharapkan. Penemuan kasus dan case detection rate di bawah standar 70%, pada level kota/ kabupaten maupun level puskesmas. Angka konversi dan angka kesembuhan masih di bawah target 85% pada sejumlah puskesmas, meskipun rata-rata target telah tercapai di level kabupaten/ kota. Salah satu penyebab utama adalah kepatuhan para dokter, spesialis, dan RS swasta masih rendah dalam menerapkan prosedur standar diagnosis, pengobatan, maupun pencatatan dan pelaporan pasien TB. Angka putus berobat dan ketidakefektifan pengawasan menelan obat mempengaruhi angka kesembuhan.  Dukungan pemerintah daerah dan DPRD belum memadai dalam pembiayaan program penanggulangan TB.

Kesimpulan. Program penanggulangan TB belum mencapai hasil kuantitatif dan kualitatif yang ditargetkan. Disarankan penguatan sistem dan dan partisipasi semua tenaga kesehatan dengan pembentukan jaringan eksternal, pembuatan nota kesepakatan, kewajiban untuk mendiagnosis dan mengobati pasien TB dengan prosedur standar yang dikaitkan dengan izin praktik dan akreditasi RS. Diperlukan penyesuaian estimasi prevalensi kasus TB menurut faktor risiko TB di tingkat populasi (misalnya, pendapatan penduduk, kepadatan penduduk) agar tidak terjadi overestimasi atau underestimasi ketika diterapkan pada level  provinsi, kabupaten/ kota, dan kecamatan. Disarankan pemberdayaan masyarakat untuk penemuan kasus.

Kata kunci: evaluasi, penanggulangan tuberkulosis, strategi DOTS.

Written by kesehatankerja

December 14, 2010 at 8:45 am

Posted in Uncategorized

Pengetahuan, Sikap dan Praktek Perawatan Organ Reproduksi Eksternal pada Remaja Putri Keluarga Miskin di Kecamatan Jebres Surakarta

leave a comment »

ABSTRAK

Sumardiyono,  Insiwi Febriary Setyasih,  Siti Muslifah, SS, M.Hum,  2010. Pengetahuan, Sikap dan Praktek Perawatan Organ Reproduksi Eksternal pada Remaja Putri Keluarga Miskin di Kecamatan Jebres Surakarta, P3G LPPM UNS.

Remaja sebagai aset bangsa mempunyai masalah kesehatan yang penting dalam siklus kehidupannya. Masalah remaja perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional bidang kesehatan khususnya kesehatan reproduksi remaja. Remaja di kalangan keluarga miskin perlu mendapat perhatian khusus karena teterbatasan sumber daya di keluarganya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji pengetahuan, sikap, dan praktek perawatan organ reproduksi eksternal; serta penyajian data remaja putrid keluarga miskin di kelurahan Purwodiningratan.

Sejalan dengan tujuan penelitian, digunakan jenis penelitian survey analitik dengan metode cross sectional. Populasi penelitian ini adalah remaja putrid keluarga miskin di kelurahan Purwodiningratan kecamatan Jebres kota Surakarta. Sampel berjumlah 40 orang berdasarkan rule of thumb, dengan teknik pengambilan sampel secara snowball sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan reproduksi remaja putrid keluarga miskin baik, tetapi sikap dan praktek terhadap perawatan organ reproduksi eksternal kurang. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap signifikan (rxy = 0,343, p = 0,030), hubungan antara sikap dan praktek signifikan (rxy = 0,618, p = 0,000), hubungan antara pengetahuan dan praktek signifikan (rxy = 0,360, p = 0,022), hubungan pengatahuan dan sikap terhadap praktek signifikan (F = 12,173, p = 0,000).

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Praktek, Remaja Putri Keluarga Miskin

Written by kesehatankerja

December 14, 2010 at 8:29 am

Posted in Uncategorized

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) terhadap peningkatan pengetahuan K3 pada pekerja peternak ayam di Jaten Karanganyar

leave a comment »

ABSTRAK

Sumardiyono, 2010. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) terhadap peningkatan pengetahuan K3 pada pekerja peternak ayam di Jaten Karanganyar. Program D.III Hiperkes & KK FK UNS.

Latar Belakang. Usaha Kesehatan Pokok (Basic Health Servives) yang diajukan WHO (1992), sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat salah satunya adalah pendidikan kesehatan kepada masyarakat; Orang yang tidak sehat tidak akan bekerja sebaik orang sehat. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Pendidikan kesehatan melalui penyuluhan di tempat kerja tidak hanya menolong pekerja mengetahui bagaimana melindungi dirinya sendiri dari bahaya lingkungan kerja, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjaga kesehatannya sendiri dengan lebih baik di tempat kerja, di rumah, dan di mana saja.

Subjek dan Metode. Jenis penelitian menggunakan eksperimen kuasi, dengan pendekatan one group pre and post test design. Perbedaan kedua hasil pengukuran tersebut dianggap sebagai efek perlakuan. Populasi berjumlah 80 orang dimbil sebagai sampel sejumlah 47 orang secara sampling aksidental. Uji statistik menggunakan Paired Samples t-test.

Hasil Penelitian. Rata-rata tingkat pengetahuan K3 sebelum penyuluhan 54.26 dengan standar deviasi 8.082, dan sesudah penyuluhan 66.13 dengan standar deviasi 9.131. Dari uji statistik diperoleh nilai t = 8.365 dan p = 0.000; oleh karena nilai p < 0.05, hasil uji dinyatakan signifikan. Dengan demikian terdapat perbedaan tingkat pengetahun K3 pada pekerja peternak ayam antara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.

Kesimpulan. Penyuluhan dapat meningkatkan tingkat pengetahuan pekerja peternak ayam, oleh karena itu instansi terkait (Dinas Kesehatan) perlu melakukan penyuluhan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) secara rutin pada pekerja di wilayah kerjanya.

Kata kunci: penyuluhan, pekerja peternak ayam.

Written by kesehatankerja

December 14, 2010 at 8:20 am

Posted in penelitian

MONITORING DEBU LINGKUNGAN DAN INDIKASI INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA PEKERJA TERMINAL TIRTONADI SURAKARTA

leave a comment »

ABSTRAK

Sumardiyono, 2009. MONITORING DEBU LINGKUNGAN DAN INDIKASI INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA PEKERJA TERMINAL TIRTONADI SURAKARTA. FK UNS.

Terminal Tirtonadi sebagai pusat terminal terbesar di Kota Surakarta terdapat ratusan pekerja aktif yang rentan terhadap gangguan kesehatan. Salah satu ancaman kesehatan yang muncul adalah bahaya akan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang akan menyebabkan gangguan kesehatan paru manusia. Untuk menekan timbulnya penyakit ISPA yang lebih banyak maka diperlukan kesiapan tenaga kesehatan dan masyarakat dalam mencegah ISPA secara terpadu disetiap jenjang administrasi, termasuk kesiapan sarana pelayanan seperti RSU, Puskesmas Perawatan, Puskesmas, Balai Pengobatan dan Puskesmas Pembantu.
Tujuan pengabdian ini adalah untuk mengetahui kadar debu lingkungan sebagai salah satu penyebab timbulnya ISPA dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di wilayah kerja Puskesmas Gilingan, Kota Surakarta pada umumnya, serta memberikan informasi dan pengetahuan mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Terminal Tirtonadi sebagai wilayah kerja Puskesmas Gilingan, Surakarta. Sejalan dengan masalah dan tujuan penelitian, maka pengabdian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif (pengukuran, ceramah dan interview).
Populasi dari kegiatan pengabdian ini adalah semua pekerja di Terminal Tirtonadi Surakarta yang mewakili dari masing-masing Himpunan Pekerja yang ada di Terminal Tirtonadi Surakarta.

Key word : Debu Lingkungan, ISPA

Written by Vitri

December 14, 2010 at 8:09 am

Posted in abdimas

PENYULUHAN PENGENDALIAN FAKTOR DAN POTENSI BAHAYA DI DAERAH ZONA HITAM SE-KARESIDENAN SURAKARTA

leave a comment »

Reni Wijayanti. 2010. PENYULUHAN PENGENDALIAN FAKTOR DAN POTENSI BAHAYA DI DAERAH ZONA HITAM SE-KARESIDENAN SURAKARTA Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk 1) mengetahui dan mengkaji faktor bahaya dari penerapan 12 elemen SMK3 di Kabupaten yang termasuk zona hitam, 2) mengetahui dan mengkaji potensi bahaya dari penerapan 12 elemen SMK3 di Kabupaten yang termasuk zona hitam, 3) mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengendalikan faktor dan potensi bahaya dari penerapan 12 elemen SMK3 di Kabupaten yang termasuk zona hitam, 4) mengetahui tindakan perbaikan untuk meminimalkan faktor dan potensi bahaya di Kabupaten yang termasuk zona hitam
Metode yang digunakan adalah diskriptif melalui hasil penyuluhan dan tanya jawab/diskusi pada perusahaan/instansi yang berada di daerah yang termasuk zona hitam.
Diharapkan dari kegiatan penyuluhan ini dapat meminimalkan faktor dan potensi bahaya di berbagai perusahaan/instansi yang ada di wilayah zona hitam sehingga wilayah yang termasuk zona hitam tersebut dapat mengalami perbaikan.

Kata Kunci : Pengendalian, Faktor dan Potensi Bahaya,

Written by Vitri

December 14, 2010 at 8:06 am

Posted in abdimas

PENYULUHAN UPAYA PENINGKATAN PERAN P2K3 DI DAERAH ZONA HITAM DI WILAYAH KARESIDENAN SURAKARTA

leave a comment »

ABSTRAK

Vitri Widyaningsih, dr PENYULUHAN UPAYA PENINGKATAN PERAN P2K3 DI DAERAH ZONA HITAM DI WILAYAH KARESIDENAN SURAKARTA Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

P2K3(Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam suatu perusahaan. P2K3 diatur oleh Permenaker No. Per-04/MENIT/1987. Kegiatan ini adalah untuk meningkstksn efektivitas peran P2K3 dalam upaya penerapan SMK3 di Perusahaan/Institusi yang berada di daerah yang termasuk zona hitam melalui penyuluhan yang dilaksanakan pada daerah zona hitam yang telah diteliti sebelumnya.
Metode yang digunakan adalah ceramah dan diskusi dua arah mengenai hasil yang telah diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian dilakukan penyuluhan dan advokasi pada perusahaan/instansi yang berada di daerah yang termasuk zona hitam.
Diharapkan dari kegiatan ini berbagai perusahaan dan instansi yang berada dalam daerah dengan zona hitam melakukan upaya untuk meminimalkan faktor dan potensi bahaya di tempat kerja masing-masing, sehingga wilayah yang termasuk dalam zona hitam dapat mengalami perbaikan.

Kata Kunci : Faktor dan Potensi Bahaya, SMK, P2K3

Written by Vitri

December 14, 2010 at 8:01 am

Posted in abdimas

GAMBARAN PEMETAAN PERUSAHAAN DALAM PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DI WILAYAH KARESIDENAN SURAKARTA.

leave a comment »

ABSTRAK
PUTU SURIYASA, 2010. GAMBARAN PEMETAAN PERUSAHAAN DALAM PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) DI WILAYAH KARESIDENAN SURAKARTA.

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penerapan SMK3 di berbagai perusahaan/instansi yang terletak di wilayah Karesidenan Surakarta
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif tentang penerapan 12 elemen SMK3 pada perusahaan atau instansi yang berada di wilayah Karesidenan Surakarta. Sampel diambil dengan cluster random sampling, yaitu pada 6 Kabupaten/Kotamadya di wilayah Karesidenan Surakarta, masing-masing diambil sebagai sampel sebanyak 6 perusahaan (responden), sehingga jumlah sampel secara keseluruhan yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebanyak 33 perusahaan (responden).Pengumpulan data dilakukan dengan checklist wawancara dengan isi 12 elemen daftar periksa audit SMK3 sesuai dengan buku kerja P2K3. Data yang diperpoleh dianalisis kesesuaiannya dengan Permenaker No. 05/MEN/1996 tentang sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Permenaker No 04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) serta tata cara penunjukan ahli keselamatan kerja.
Hasil penelitian diperoleh prosentase penerapan SMK3 di wilayah Surakarta untuk kategori zona emas (tingkat pencapaian penerapan SMK3 85-100 persen) sebanyak 0 persen, kategori zona perak (tingkat pencapaian penerapan SMK3 60-84 persen) sebanyak 33 persen, dan kategori zona perlu pembinaan (tingkat pencapaian penerapan SMK3 0-59 persen) sebanyak 67 persen. Di wilayah Sukoharjo dan Wonogiri untuk kategori zona emas sebanyak 67 persen, kategori zona perak sebanyak 33 persen, dan untuk kategori zona perlu pembinaan sebanyak 0 persen. Di wilayah Klaten untuk kategori zona emas sebanyak 67 persen, kategori zona perak sebanyak 33 persen, kategori zona perlu pembinaan sebanyak 0 persen. Di wilayah Boyolali untuk kategori zona emas sebanyak 67 persen, kategori zona perak sebanyak 16 persen, dan untuk kategori zona perlu pembinaan sebanyak 17 persen. Di wilayah Sragen untuk kategori zona emas sebanyak 50 persen, kategori zona perak sebanyak 17 persen, kategori zona perlu pembinaan sebanyak 33 persen. Di wilayah Karanganyar untuk kategori zona emas sebanyak 50 persen, kategori zona perak sebanyak 50 persen, dan kategori zona perlu pembinaan sebanyak 0 persen.
Kesimpulan secara keseluruhan prosentase pencapaian penerapan SMK3 di wilayah Karesidenan Surakarta untuk kategori zona emas (tingkat pencapaian penerapan SMK3 85-100 persen) sebanyak 49 persen, untuk kategori zona perak (tingkat pencapaian penerapan SMK3 60-84 persen) sebanyak 30 persen, untuk kategori zona perlu pembinaan (tingkat pencapaian penerapan SMK3 0-59 persen) sebanyak 21 persen. Saran perlu peningkatan peran P2K3, perlu peningkatan peran dan kerjasama yang baik dari semua instansi yang terkait dalam hal ini Dinas tenaga kerja untuk meningkatkan pelaksanaan SMK3 di wilayah kerjanya.

Kata Kunci : Sistem Manajemen K3i

ABSTRACT
PUTU SURIYASA, 2010. Implementation of SMK3(Health and Safety Management System) in Surakarta Region.
This study aims to explore the implementation of Health and Safety Management System (SMK3) amongst companies in Surakarta regios.
This is a descriptive study aboyt the implementation of 12 element of SMK3 amongst companies and institution in Surakarta region. Sampling was conducted with cluster random sampling, in which from 6 municipality in Surakara region, 6 companies were randomly used as subject of the study. Total sample was 66 companies. Data collection was conducted with interview and checklist about the implementation of 12 elements of SMK3 according to P2K3 (the Committee of Health and Safety) work book. Data was analysed by using Permenaker No. 05/MEN/1996 about SMK3 and Permenaker No 04/MEN/1987 about Committee of Health and Safety or Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).
The result shows that in the city of Surakarta there is no company that get Golden Zone (85-100 implementation of SMK3), 33 percent included in silver zone (60-84 percent implementation) and 67 percent are included in the zone that needs extra guidance. In Sukoharjo and Wonogiri 67 percent included in Golden Zone, while the other 33% included in silver zone, no companies is included in extra guidance zone. In Klaten, 67 percent included in golden zone, 33 percent in silver zone, no companies are included in the zone that needed guidance. In Boyolali 67 persen are included in Golden Zone, 16 percent included in Silver zone, and 17 percent are included in the zone that needs guidance. In Sragen, 50% are included in Golden zone, 17 percent are included in silver zone, and 33 percent included in the zone that needed guidance. In Karanganyar, 50% included in Golden Zone, while the other 50% are included in silver zone.
We conclude that the overall percentage of Golden zone in Surakarta region is 49 percent, while 30 percent are included in Silver zone, and there are still 21 percent that still needs guidance. Hence, we recommend advocacy and guidance for these area to improve the implementation of SMK3 and also for the Golden and Silver zone to maintain their implementation of SMK3.

Kata Kunci : Health and Safety Management System

Written by Vitri

December 14, 2010 at 7:00 am

Posted in penelitian

MONITORING DAN EVALUASI KESEHATAN KERJA MENGENAI PENGGUNAAN MASKER SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERHADAP GANGGUAN PERNAFASAN AKIBAT PAPARAN DEBU MAKANAN TERNAK PADA PEKERJA DI PETERNAKAN JATEN KARANGANYAR.

leave a comment »

ABSTRAK
Eti Poncorini Pamungkasari. 2009. MONITORING DAN EVALUASI KESEHATAN KERJA MENGENAI PENGGUNAAN MASKER SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERHADAP GANGGUAN PERNAFASAN AKIBAT PAPARAN DEBU MAKANAN TERNAK PADA PEKERJA DI PETERNAKAN JATEN KARANGANYAR.

Penyakit pernafasan yang pada umumnya dikarenakan oleh debu merupakan masalah umum yang sering kita temukan dikalangan pekerja, khususnya pekerjaan-pekerjaan yang menimbulkan debu. Penyakit pneumoconiosis merupakan penyakit pernafasan yang terjadi akibat penimbunan debu dalam paru-paru. Penyebabnya adalah partikel-partikel debu berukuran kurang dari 1-3 mikron. Peneumoconiosis berat umumnya dikarenakan oleh adanya riwayat sakit dari pekerjaan sebelumnya, ketahanan tubuh yang kurang, serta ketidak tahuan pentingnya penggunaan alat pelindung diri.
Untuk mengantisipasi masalah tersebut diperlukan kesiapan tenaga kesehatan dan masyarakat dalam mencegah terjadinya penyakit pernafasan akibat kerja. Kasus penyakit pernafasan juga terjadi di Peternakan milik Bp.K Hartono, Desa Tundungan Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Kasus yang terjadi masih dalam tahap yang tidak begitu akut, hanya saja ada beberapa pekerja yang terpapar debu dari proses pakan ternak yang menimbulkan kelainan-kelainan pada pekerja peternakan
Kegiatan pengabdian ini merupakan follow up dari kegiatan penyuluhan dan assessment yang telah dilakukan sebelumnya. Pengabdian ini bertujuan mengevaluasi keluhan musculoskeletal yang dialami pekerja dan mengobservasi sikap kerja pekerja setelah penyuluhan dilakukan, termasuk mengevaluasi hasil advokasi yang telah dilakukan kepada pengusaha untuk memberikan ruangan kerja yang lebih nyaman untuk pekerja.
Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi dan pemberian kuesioner tentang keluhan musculoskeletal yang dialami serta observasi sikap kerja yang dilakukan oleh pekerja, Pengabdian dilakukan di.

Kata kunci : Musculoskeletal Disorder(MSD), perajin batik, sikap kerja

Written by Vitri

December 14, 2010 at 6:52 am

Posted in Uncategorized

MONITORING DAN EVALUASI TENTANG KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PERAJIN BATIK TULIS DI BATIK BROTOSENO KECAMATAN MASARAN SRAGEN

leave a comment »

ABSTRAK
Vitri Widyaningsih. 2009. MONITORING DAN EVALUASI TENTANG KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA PERAJIN BATIK TULIS DI BATIK BROTOSENO KECAMATAN MASARAN SRAGEN.

Keluhan musculoskeletal (Musculoskeletal Disorder –MSD) merupakan keluhan yang sering dialami oleh pekerja. Keluhan ini diakibatkan oleh banyak factor antara lain usia, beban kerja, dan sikap kerja atau posisi ergonmis saat bekerja. Perajin batik melakukan aktivitasnya dalam posisi duduk dalam jangka waktu yang lama, dengna posisi statis dan kadang posisi awkward (tidak nyaman) sehingga rentan mengalami keluhan musculoskeletal. Untuk itulah dilakukan upaya untuk mengurangi keluhan musculoskeletal yang dialami pekerja dengan mengadakan penyuluhan dan edukasi tentang sikap kerja.
Kegiatan pengabdian ini merupakan follow up dari kegiatan penyuluhan dan assessment yang telah dilakukan sebelumnya. Dari assessment didapatkan hasil bahwa dari 15 responden yang disurvei semuanya mengalami keluhan musculoskeletal, dan setelah dilakukan observasi ternyata pekerja tersebut melakukan sikap kerja yang salah dengan membungkuk, miring, posisi berdekatan antar pekerja sehingga tidak memungkinkan posisi yang nyaman saat bekerja. Telah dilakukan penyuluhan kepada pekerja pada bulan Desember 2009. Pengabdian ini bertujuan mengevaluasi keluhan musculoskeletal yang dialami pekerja dan mengobservasi sikap kerja pekerja setelah penyuluhan dilakukan, termasuk mengevaluasi hasil advokasi yang telah dilakukan kepada pengusaha untuk memberikan ruangan kerja yang lebih nyaman untuk pekerja.
Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi dan pemberian kuesioner tentang keluhan musculoskeletal yang dialami serta observasi sikap kerja yang dilakukan oleh pekerja, Pengabdian dilakukan di Pabrik Brotoseno, Kecamatan Masaran, Sragen.

Kata kunci : Musculoskeletal Disorder(MSD), perajin batik, sikap kerja

Written by Vitri

December 14, 2010 at 6:51 am

Posted in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.